Mengarungi Samudra Kematian: Jangan Biarkan Diri Tenggelam Tanpa Bekal
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Mengawali
khutbah Jumat pada siang hari yang mulia ini, khatib mengajak kepada seluruh
jamaah sekalian, dan khususnya untuk diri khatib pribadi, marilah kita
senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta'ala. Yakni dengan
bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Hadirin jama’ah
Jum’ah rahimakumullah
Di tengah kesibukan kita beraktivitas di Kota Bontang yang kita cintai
ini—baik yang bekerja menembus waktu di kawasan industri, melaut mengarungi
gelombang pesisir, hingga bertaruh nafkah di pasar dan perniagaan—sering kali
kita lupa bahwa semua ini hanyalah persinggahan sementara. Kita merasa seolah
waktu kita masih panjang, seolah badan yang segar ini akan selamanya sanggup
bertahan.
Padahal, jika kita renungi, betapa banyaknya kerabat, tetangga, kawan
sekerja, dan sanak keluarga kita di Bontang ini yang kemarin masih tertawa
bersama kita, namun hari ini mereka telah berbaring sunyi di dalam tanah,
menanti hari pembalasan. Cepat atau lambat, suka atau tidak suka, giliran kita
pun pasti akan tiba. Maut tidak akan menunggu sampai kita siap, dan malaikat
maut tidak akan menunda tugasnya hanya karena kita masih sibuk dengan urusan
duniawi. Allah SWT mengingatkan kita dalam Surah Ali
'Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imron; 185).
Oleh karena itu,
pertanyaan yang harusnya kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing
adalah, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian? Jangan
sampai ajal menjemput, tapi bekal kita tidak cukup. Jangan sampai maut
mendatangi kita, tapi kita tidak punya bekal apa-apa. Sahabat Abu Bakar
sebagaimana dikutip oleh Syeikh Nawawi Al Bantani di dalam kitab Nashoihul Ibad
menyampaikan:
من دخل القبر بلا زادٍ، فكأنما ركب البحر بلا سفينة
“Barangsiapa
masuk kubur tanpa bekal, maka seolah-olah dia mengarungi lautan tanpa kapal.” Bayangkan betapa
mengerikannya kondisi kita kelak di alam kubur jika kita melangkah ke sana
tanpa bekal iman dan amal saleh. Kita akan tenggelam dalam penyesalan yang tak
bertepi dan terombang-ambing dalam lautan azab yang pedih.
Oleh karena itu, selagi Allah SWT masih memberikan kita helaan napas di
kota ini, selagi jantung masih berdenyut dan kesempatan masih ada, marilah kita
bersiap. Ada dua bekal utama yang harus kita kumpulkan sebelum maut menjemput
Pertama, Memperbanyak Amal Saleh.
Bukan harta melimpah, rumah megah, atau jabatan di tempat kerja yang
akan menemani kita di lubang kubur yang sempit. Hanya amal salehlah yang akan
menjadi cahaya penolong kita. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat
110:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهِ
فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya: "Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Rabbnya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan sesuatu pun
dalam beribadah kepada Rabbnya." (QS. Al-Kahfi: 110).
Kedua, Segera Bertaubat kepada Allah SWT.
Jangan menunda taubat hingga datangnya masa tua atau datangnya rasa
sakit. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Syarah Sullam at-Taufiq menjelaskan
bahwa syarat taubat sejati adalah:
النَّدْمُ، وَالْإِقْلَاعُ، وَالْعَزْمُ عَلَى
أَنْ لَا يَعُوْدَ إِلَيْهَا، وَالْاِسْتِغْفَارُ
Artinya: "Adanya rasa menyesal yang mendalam di hati, melepaskan
dan meninggalkan perbuatan dosa tersebut seketika, memiliki tekad yang kuat
untuk tidak mengulanginya lagi, serta memperbanyak istighfar memohon
ampunan.".
Jama'ah yang dimuliakan Allah,
Mari kita jadikan setiap helai napas kita di Kota Bontang ini sebagai
ladang pahala. Jangan biarkan hari-hari kita berlalu sia-sia tanpa persiapan.
Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari jepitan dan siksa kubur, menjauhkan
kita dari panasnya api neraka, serta mengumpulkan kita kembali bersama keluarga
tercinta di dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ
فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ
وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ
الْمَتِيْنِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ،
إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا
وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا
كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا
ذَاكِرًا وَحَلَالًا طَيِّبًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا، اَللّٰهُمَّ طَوِّلْ
عُمُورَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ
إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنا ،رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

0 Response to "Mengarungi Samudra Kematian: Jangan Biarkan Diri Tenggelam Tanpa Bekal"
Posting Komentar